Hancurnya Kerajaan Majapahit terjadi pada akhir abad ke-15, mengakhiri masa kejayaan dan pemerintahan kerajaan yang pernah besar di Nusantara. Beberapa faktor yang menyebabkan hancurnya Majapahit antara lain:
Peperangan Internal: Setelah masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami periode ketidakstabilan politik dengan persaingan antar-bangsawan untuk merebut kekuasaan. Peperangan internal ini melemahkan struktur pemerintahan dan menyebabkan ketidakstabilan di dalam kerajaan.
Serangan dari Luar: Pada abad ke-15, kerajaan Islam Demak, di bawah kepemimpinan Raden Patah, menjadi semakin kuat dan mulai menantang dominasi Majapahit. Demak berhasil menguasai beberapa wilayah dan akhirnya menaklukkan ibu kota Majapahit, Trowulan, pada sekitar tahun 1478 M. Serangan ini menyebabkan kehancuran beberapa bagian dari kerajaan Majapahit.
Perubahan Perdagangan dan Ekonomi: Perubahan dalam jalur perdagangan di Nusantara, terutama akibat pergeseran perdagangan rempah-rempah ke arah barat, menyebabkan penurunan ekonomi dan pendapatan kerajaan Majapahit. Kejatuhan dominasi perdagangan menyebabkan penurunan pendapatan kerajaan, mempengaruhi kemampuan Majapahit untuk mempertahankan wilayahnya.
Penyakit dan Bencana Alam: Selain serangan musuh, penyakit dan bencana alam, seperti wabah dan bencana alam lainnya, juga ikut berperan dalam menyebabkan penurunan kekuasaan Majapahit. Bencana alam dapat menyebabkan kerugian besar dan mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi.
Akumulasi faktor-faktor ini menyebabkan hancurnya Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15, dan bagian dari bekas wilayahnya akhirnya jatuh ke tangan Demak. Meskipun Majapahit sebagai kekuatan politik berakhir, warisan budaya dan sejarahnya tetap hidup dalam berbagai aspek kehidupan di Indonesia, termasuk dalam seni, sastra, dan kepercayaan masyarakat.
.png)
.png)